MR. BUT BUT in ACTION….

Herba Wahida untuk Indonesia

Herba Wahida, sebuah brand dari PT.Wahida Indonesia yang memproduksi produk obat-obatan herbal asli Indonesia kini mulai merentangkan sayapnya untuk melayani para pencinta produk Indonesia dalam memenuhi kebutuhan obat-obatan herbal alami yang tanpa menggunakan bahan-bahan kimiawi.

dalam mengembangkan bisnisnya PT.Wahida Indonesia menggandeng PT.Anugerah Pharmindo Lestari ( APL ) untuk mendistribusikan produk Herba Wahida.  PT. Anugerah Pharmindo Lestari adalah sebuah perusahaan distibutor phamasi terbesar di Indonesia yang merupakan bagian dari perusahaan Farmasi Zueligh Pharma yang bermarkas di Hongkong. 

dengan kerjasama yang dilakukan PT.Wahida Indonesia dengan PT.APL  menjadikan produk-produk Herba Wahida kini telah tersedia di Apotik-apotik terkemukan di Indonesia.

adapun produk yang yang di distribusikan PT.wahida Indonesia melalui APL adalah:

  • But-but Magic Oil  :  Minyak Herbal Serba Guna yang terbuat dari ramuan tumbuh-tumbuhan berkhasiat dan tanpa bahan kimiawi sedikitpun berkhasiat untuk menyembuhkan Luka Bakar, memar , lecet , pegal2 dan lain-lain
  • Herba Senna Aloe : obat herbal yang berfungsi untuk memperbaiki pencernaan
  • Androgia                  : yang berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menyembuhkan berbagai penyakit
  • Rizia                           : yang cocok untuk penderita Hepatitis, karena memperbaiki kesehatan fungsi hati(liver)
  • Rizo                            : Produk Herbal alami khusus wanita yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit yang berhubungan dengan wanita seperti Pre Monepause syndrome , Premenstruasi syndrome dan segala hal yang berhubungan dengan penyakit wanita.
  • Herbsdent              : sebuah produk pasta gigi yang terbuat dari bahan herbal alami sebagai bahan aktifnya, seperti tumbuhan Salvadora Persica ( kayu ara/ siwak), ekstrak cengkeh dan daun mint yang telah terbukti dapat mengatasi masalah mulut secara alami sejak dahulu kala.  

untuk membuka awareness pasar, PT.Wahida Indonesia telah membuat TV Commercial ( TVC ) But-But Magic Oil, dengan memakai bintang iklan sebuah keluarga Islami yang modern, namun bukan berarti produk ini tersegmentasi untuk umat muslim saja. tapi lebih mengarah kepada kedokteran islam yang memakai bahan-bahan alami untuk media pengobatan.

selain itu, Herba Wahida juga akan segera beriklan di media-media cetak nasional untuk mengenalkan produk unggulannya.

Pemerintah Indonesia Kawal Industri Obat Herbal Indonesia

KOMPAS.com — Demi mewujudkan target menjadikan jamu tradisional menjadi tuan rumah di negeri sendiri, pemerintah sudah menyatakan komitmennya mengawal industri jamu nasional. Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengemukakan hal itu saat menjadi pembicara pada “Seminar Prospek Pengembangan Jamu Menuju Masyarakat Indonesia yang Sehat dan Mandiri: Harapan dan Tantangannya”, Sabtu (22/5/2010).

Hadir dalam kesempatan itu sebagai pembicara antara lain Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Agus Purwadianto dan Direktur Utama Sido Muncul Irwan Hidayat. Seminar tersebut menjadi salah satu mata rantai acara Hari Kebangkitan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang dipusatkan di Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat.

Menurut Endang, pascapencanangan kebangkitan jamu nasional dua tahun lalu, pemerintah sudah menyiapkan rambu-rambu untuk maksud tersebut di atas. Selain bentuk turunan dari Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009, yakni Peraturan Pemerintah tentang Pengobatan Tradisional, pemerintah juga sudah menempatkan studi mengenai jamu tradisional di universitas. “Sudah ada Program Studi Herbal di Pascasarjana Universitas Indonesia,” kata Endang.

Selain itu, sampai sekarang sudah ada 17 rumah sakit pendidikan yang memberikan pelayanan jamu sebagai rujukan proses pengobatan. “Ke depannya, hal itu akan diperluas melalui program jamu masuk rumah sakit maupun jamu masuk puskesmas (pusat kesehatan masyarakat),” katanya.

Menyinggung soal saintifikasi jamu, Agus menambahkan, pihaknya akan mempersiapkan semua lini agar landasan ilmiah bagi jamu sebagai salah satu sarana pengobatan yang bisa dimanfaatkan masyarakat luas, di samping pengobatan farmasi yang sudah ada. “Kami akan menyiapkan semuanya, mulai dari hulu hingga hilir,” katanya seraya menambahkan saintifikasi jamu sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2010.

Sementara itu, Irwan mengatakan, andai seluruh program tersebut tercapai, masyarakat Indonesia tetap setia menjalankan tradisi minum jamu. “Minum jamu dari dulu memang terbukti baik,” katanya menekankan.
Irwan lebih lanjut menambahkan, tradisi minum jamu baik bila dipertahankan sebagaimana bangsa lain juga mempertahankan tradisi minum teh. “Ini hal yang baik sampai sekarang,” katanya.

Target Omzet Obat-obatan Herbal Indonesia Rp 10 Triliun

www.herbawahida.comJAKARTA – Omzet penjualan jamu tahun ini diperkirakan bisa menembus angka Rp 10 triliun atau naik sekitar Rp 1,7 triliun dibandingkan 2009 yang hanya Rp 8,3 triliun. Optimisme menaikkan target itu ditopang sikap kalangan menengah atas yang mulai suka mengonsumsi produk berbasis alam.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Indonesia Charles Saerang mengatakan, hingga saat ini terdapat sekitar 300 produk jamu yang beredar di pasar. Namun, yang laku di pasaran hanya sekitar 80 produk. “Selama ini produsen juga memasarkan. Akibatnya tidak fokus, sehingga penjualannya tidak maksimal,” kata Charles yang juga Direktur Utama PT Nyonya Meneer itu.
Untuk realisasi omzet, Charles mengungkapkan bahwa pada kuartal I-2010 telah mencapai Rp 2,25 triliun. Pada kuartal II, Charles memprediksi terjadi kenaikan sebesar 10 persen dari kuartal I.
“Tantangan saat ini memang lebih besar, terutama akibat perdagangan bebas ASEAN-China,” katanya. Menurutnya, produksi jamu dari Tiongkok cukup besar dan masuk melalui jaringan herbal klinik di di daerah-daerah tertentu. (wir/fat)

sumber : jawapos.co.id

Herba Angin Wahida

Herbal, Warisan Sehat sejak Lampau

Kompas.com — Meski menjadi salah satu “gudang” herbal dunia, nyatanya di Indonesia obat tradisional belum dipandang sejajar dengan obat modern. Selain itu, belum banyak dokter yang membuka praktik pengobatan herbal. Obat tradisional juga belum diintegrasikan dengan pelayanan kesehatan nasional.

Menurut Dr Amarullah H Siregar, saat ini masyarakat masih memiliki paradigma berobat. “Setiap ada keluhan langsung diobati, namun akar masalahnya tidak dicari. Paradigma kita seharusnya diubah, bukan berobat tapi minta disembuhkan,” paparnya dalam seminar “Sehat dengan Herbal” yang diadakan oleh Deltomed, di Jakarta, Rabu (19/5/2010).

Ia menambahkan, obat-obatan modern lebih banyak bertujuan untuk mengobati gejala penyakitnya, tetapi tidak menyembuhkan sumbernya. Berbeda halnya dengan pengobatan herbal yang memiliki pendekatan holistik antara tubuh, pikiran, dan jiwa.

“Tubuh kita sebenarnya terbangun oleh kesatuan sistem. Semua saling berhubungan. Sehingga jika ada satu bagian yang sakit, sisi yang sehat harusnya diberdayakan,” kata dokter yang menekuni pengobatan herbal (naturopati) ini.

Konsep yang diterapkan dalam ilmu naturopati adalah perawatan medis untuk memberdayakan fungsi alami tubuh dalam pengobatan, pencegahan, dan meningkatkan taraf kesehatan. Metode yang digunakan bersifat alami dan non-invasif atau tanpa operasi, tanpa obat kimia sintetis, berorientasi kepada pasien, dan ramah lingkungan.

Pengobatan tradisional, menurut Amarullah, memang harus dikonsumsi jangka panjang dan tidak memberi efek seketika seperti obat modern. Meski demikian, ia mengatakan bahwa efek penyembuhannya tetap sama.

“Ambil contoh meniran (Phyllanthus urinaria) yang punya efek seperti antibiotik. Ia tidak langsung membunuh kuman, namun mengaktifkan kelenjar timur yang menghasilkan sel-T yang merupakan pembunuh alami kuman,” kata dokter yang memiliki klinik di kawasan Ragunan Jakarta ini.

Kendati demikian, obat herbal hendaknya tidak dikonsumsi secara sembarangan, apalagi bila dicampur dengan obat kimia. Konsumen juga sebaiknya memerhatikan cara pemasakan hingga cara mengonsumsinya.

sumber : kompas.com

Obat-obatan Bisa Memicu Tuli

Boston, Obat penghilang rasa sakit atau analgesik seringkali dikonsumsi tanpa resep dokter. Tapi sebuah studi menunjukkan mengonsumsi dua atau lebih obat analgesik dalam seminggu bisa mengakibatkan hilang pendengaran.

“Meskipun analgesik ini tersedia di toko obat bebas tanpa resep, tapi obat ini tetap saja berpotensi menimbulkan efek samping,” ujar Sharon Curhan, MD, dari Channing Laboratory di Department of Medicine at Brigham and Women’s Hospital, Boston, seperti dikutip dari Arthritis Today, Senin (17/5/2010).

Sebenarnya telah lama diketahui bahwa beberapa jenis analgesik dosis tinggi dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan tinnitus (suara dengung di telinga). Selain itu pada beberapa kasus, dosis tinggi dari obat anti peradangan (NSAIDs) telah dihubungkan dengan kehilangan pendengaran.

Untuk studi ini, peneliti dari Harvard University, Brigham and Women’s Hospital, Vanderbilt University dan Massachusetts Eye and Ear Infirmary mempelajari data dari hampir 27.000 orang yang berusia antara 40-74 tahun. Partisipan harus mengisi kuesioner setiap dua tahun selama 18 tahun sejak tahun 1986.

Partisipan diminta menjawab serangkaian pertanyaan medis dan demografis, seperti apakah sudah didiagnosis mengalami gangguan pendengaran oleh dokter spesialis dan apakah secara teratur menggunakan obat-obat penghilang rasa sakit.

Penggunaan teratur disini adalah meminum obat tersebut setidaknya dua kali seminggu. Ternyata dilaporkan hampir sekitar 3.500 kasus kehilangan pendengaran.

“Temuan ini cukup menakjubkan. Kami menemukan besarnya hubungan antara penggunaan analgesik biasa dan kehilangan pendengaran pada laki-laki muda,” ujar Dr Curhan.

Meski hasil studi ini tidak melihat mekanisme biologis yang dapat menyebabkan hal tersebut, tapi para peneliti memiliki teori tertentu. Kemungkinan obat-obat jenis itu mengurangi aliran darah ke tabung kecil di telinga bagian dalam (koklea) yang bertugas memproses getaran suara.

“Acetaminophen bisa menghabiskan protein glutathione di koklea. Padahal glutathione ini melindungi koklea dari kerusakan, seperti kerusakan yang mungkin disebabkan oleh kebisingan,” imbuhnya.

Sementara itu Tom Abelson, MD, seorang dokter staf di Department of Otolaryngology Cleveland Clinic’s Head and Neck Institute di Ohio menuturkan bahwa peneliti masih belum mengetahui bagaimana efek dari penggunaan rendah obat tersebut. Namun seseorang tetap harus mempertimbangkan risiko dan manfaat dari penggunaan obat jangka panjang.

“Bagi orang yang memang membutuhkan obat ini agar bisa berfungsi lebih baik seperti penderita artritis, tidak harus menjadi takut tuli atau menjadi alasan untuk tidak minum obat,” ungkap Dr Abelson.

Setiap perubahan penggunaan obat baik yang resep atau non-resep harus didiskusikan terlebih dahulu dengan ahli kesehatan untuk mempertimbangkan risiko dan manfaatnya.

Gangguan pendengaran diperkirakan mempengaruhi 36 juta orang dan sekitar sepertiganya adalah usia 40-49 tahun.

sumber : health.detik.com

pakailah obat-obatan herbal Wahida Indonesia, yang terbuat dari bahan-bahan alami

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.