Obat-obatan Bisa Memicu Tuli

Boston, Obat penghilang rasa sakit atau analgesik seringkali dikonsumsi tanpa resep dokter. Tapi sebuah studi menunjukkan mengonsumsi dua atau lebih obat analgesik dalam seminggu bisa mengakibatkan hilang pendengaran.

“Meskipun analgesik ini tersedia di toko obat bebas tanpa resep, tapi obat ini tetap saja berpotensi menimbulkan efek samping,” ujar Sharon Curhan, MD, dari Channing Laboratory di Department of Medicine at Brigham and Women’s Hospital, Boston, seperti dikutip dari Arthritis Today, Senin (17/5/2010).

Sebenarnya telah lama diketahui bahwa beberapa jenis analgesik dosis tinggi dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan tinnitus (suara dengung di telinga). Selain itu pada beberapa kasus, dosis tinggi dari obat anti peradangan (NSAIDs) telah dihubungkan dengan kehilangan pendengaran.

Untuk studi ini, peneliti dari Harvard University, Brigham and Women’s Hospital, Vanderbilt University dan Massachusetts Eye and Ear Infirmary mempelajari data dari hampir 27.000 orang yang berusia antara 40-74 tahun. Partisipan harus mengisi kuesioner setiap dua tahun selama 18 tahun sejak tahun 1986.

Partisipan diminta menjawab serangkaian pertanyaan medis dan demografis, seperti apakah sudah didiagnosis mengalami gangguan pendengaran oleh dokter spesialis dan apakah secara teratur menggunakan obat-obat penghilang rasa sakit.

Penggunaan teratur disini adalah meminum obat tersebut setidaknya dua kali seminggu. Ternyata dilaporkan hampir sekitar 3.500 kasus kehilangan pendengaran.

“Temuan ini cukup menakjubkan. Kami menemukan besarnya hubungan antara penggunaan analgesik biasa dan kehilangan pendengaran pada laki-laki muda,” ujar Dr Curhan.

Meski hasil studi ini tidak melihat mekanisme biologis yang dapat menyebabkan hal tersebut, tapi para peneliti memiliki teori tertentu. Kemungkinan obat-obat jenis itu mengurangi aliran darah ke tabung kecil di telinga bagian dalam (koklea) yang bertugas memproses getaran suara.

“Acetaminophen bisa menghabiskan protein glutathione di koklea. Padahal glutathione ini melindungi koklea dari kerusakan, seperti kerusakan yang mungkin disebabkan oleh kebisingan,” imbuhnya.

Sementara itu Tom Abelson, MD, seorang dokter staf di Department of Otolaryngology Cleveland Clinic’s Head and Neck Institute di Ohio menuturkan bahwa peneliti masih belum mengetahui bagaimana efek dari penggunaan rendah obat tersebut. Namun seseorang tetap harus mempertimbangkan risiko dan manfaat dari penggunaan obat jangka panjang.

“Bagi orang yang memang membutuhkan obat ini agar bisa berfungsi lebih baik seperti penderita artritis, tidak harus menjadi takut tuli atau menjadi alasan untuk tidak minum obat,” ungkap Dr Abelson.

Setiap perubahan penggunaan obat baik yang resep atau non-resep harus didiskusikan terlebih dahulu dengan ahli kesehatan untuk mempertimbangkan risiko dan manfaatnya.

Gangguan pendengaran diperkirakan mempengaruhi 36 juta orang dan sekitar sepertiganya adalah usia 40-49 tahun.

sumber : health.detik.com

pakailah obat-obatan herbal Wahida Indonesia, yang terbuat dari bahan-bahan alami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: